<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\0755442012868639937852\46blogName\75Trah+Tirtodongso\46publishMode\75PUBLISH_MODE_BLOGSPOT\46navbarType\75BLUE\46layoutType\75CLASSIC\46searchRoot\75http://trah-tirtodongso.blogspot.com/search\46blogLocale\75en\46v\0752\46homepageUrl\75http://trah-tirtodongso.blogspot.com/\46vt\0755465118811335998811', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Salam sejahtera untuk kita semua

Dengan memanjatkan puji syukur Alhamdulilllah kepada Allah Subhanahu wa ta’ ala telah dapat kami selesaikan penyusunan “ Silsilah Trah Tirtodongso“ Edisi 1998 dengan sebaik-baiknya. Mulai dengan tugas disampaikan kepada panitia Penyusunan Silsilah pada bulan Januari 1998, pada pertemuan tahunan Halal Bihalal Tirtodongso di rumah Ibu SOETOMO SASTROWILOBO - Badran Solo, telah dengan rutin panitia mengadakan pertemuan bulanan di Solo tersebut dan berhasil menyimpulkan dan menyusun setelah dengan diskusi dan pembicaraan dengan para pinisepuh serta nara sumber yang sangat berguna sekali dalam penyusunan buku silsilah ini.
Kepada semua pihak yang sudah membantu dan merealisir buku silsilah ini, kami atas nama Panitia mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian, arahan dan kerjasamanya sampai dengan tersusunnya buku silsilah ini.
Namun dengan kerendahan hati kami menyadari bahwa susunan dan isi dari silsilah ini masih belum sempurna., walaupun Panitia sudah berusaha dengan sungguh - sungguh mengedarkan dan menunggu sampai saat akan segera dicetak , namun tetap masih banyak yang belum lengkap. Mungkin juga karena kekurangan kami sehingga Bapak,Ibu, Saudara sekalian belum mendapat informasi atau
edaran kami belum sampai, untuk itu kami mohon maaf. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan koreksi, tambahan dan sumbangan pemikiran untuk lebih menambah kelengkapan dan mutu dari buku silsilah ini.
Kepada para Bapak, Ibu dan Saudara - Saudara sekalian kami mohon maaf bila ada isi dari buku silsilah ini yang kurang berkenan dan dapat dikoreksi, kami panitia akan mengoreksinya dan akan kami masukkan pada Edisi tahun berikutnya. Yang jelas buku “ Silsilah Tirtodongso “ ini dapat berguna bagi persaudaraan kita satu Trah Tirtodongso sesuai dengan tujuannya dan merupakan kewajiban bagi generasi penerus untuk menyempurnakan dan melestarikan Silsilah ini.
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala ,Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua.

Sekian dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Jakarta, 4 Nopember 2005
a.n Panitia
ttd
Ir.H.SUDARSONO HARDJOSOERATNO
N.I.T : 1.2.5.4..6.7

1. RIWAYAT SINGKAT EYANG TIRTODONGSO


Ada dua versi menurut kisah turun temurun yang disampaikan oleh Ibu SOETOMO SASTROWILOBO dan Bapak SOEKARMANTO HARDJOSOEDIRO.
Menurut Ibu SOETOMO SASTRO WILOBO :
Eyang Tirtodongso masih keturunan dari Eyang Empu Kraton Majapahit sewaktu Prabu Browijoyo V. Adapun Eyang Empu itu sendiri masih keturunan dari Eyang Djoko Dolog dan dari Prabu Browijoyo V.
Sedangkan menurut Bapak SOEKARMANTO HARDJOSOEDIRO dan dari keterangan Bapak Mr.SOEDJONO HARDJOSOEDIRO, Eyang Tirtodongso itu masih ada hubungan keturunan dari Eyang Empu Supo dan dengan Kraton Pajang ( Sunan Amangkurat I ) yang meninggal di Tegalarum Tegal. Beliau juga menyarankan agar Kyai Djafar yang diperkirakan masih ada kaitannya dengan Eyang Tirtodongso, dilacak bagaimana ceriteranya dan siapa. Eyang Tirtodongso mewarisi bakat Empu dan menjadi Empu Kraton Kartosuro, ahli dalam membuat peralatan perang untuk Kraton Surakarta.

Eyang Tirtodongso dimakamkan di Kemit - Klaten Jawa Tengah. Karena kecintaan masyarakat Jenazah Eyang Tirtodongso tidak diperbolehkan masyarakat untuk dibawa dengan kereta. Masyarakat beramai-ramai secara estafet memikul Jenazah Eyang Tirtodongso sampai ke makam Kemit Klaten. Pesan Eyang “ Wanti - Wanti “ yang selalu diingat oleh Ibu SOETOMO SASTROWILOBO ialah “TANSAH TUMINDAK UTOMO “ ( Selalu berbuat utama/terpuji )
Yaitu anak cucu agar selalu berbuat utama, berbuat kebajikan, kejujuran , kesabaran, kebijaksanaan, kebenaran , keadilan dan segala perbuatan yang bersifat utama.
Dalam bidang pekerjaan atau profesi “TANSAH TUMINDAK UTOMO” disamping pengertian diatas dapat juga berarti selalu melakukan pekerjaan, profesi dengan sebaik-baiknya penuh tanggung jawab, dengan dedikasi yang jujur dan iklas.
Adapun perkiraan tahun keberadaan Eyang Tirtodongso menurut perhitungan Bpk.Drs.R.G.SOEKADIJO sebagai berikut :
Perkiraan berdasarkan pergantian generasi :
Umur saya 80 tahun (kurang beberapa bulan).
Waktu ayah meninggal saya berumur 1 tahun dan ibu kira - kira berumur 35 tahun, jadi waktu saya lahir ibu berumur 34 tahun.
Kalau Eyang Dutosudarmo melahirkan ibu pada umur 27 tahun dan Eyang
Wanengkasmo melahirkan ibu Dutosudarmo sebagai anak keempat pada waktu umur 34 tahun, maka waktu mulai sekarang hingga lahirnya ibu Wanengkasmo adalah :
30+34-27+34 = 175 Tahun. Kalau ibu Tirtodongso melahirkan ibu Wanengkasmo sebagai anak kedua pada umur 28 tahun, maka lahirnya ibu Tirtodongso ialah 175 + 28 = 203 tahun yang lalu.
Jadi sekitar tahun 1795 yang lalu keberadaan Eyang kita Tirtodongso.

2. MAKSUD DAN TUJUAN

Perkembangan jaman yang terus melaju dan kebutuhan yang terus berkembang, hampir melalaikan kita tentang arti dan kehangatan persaudaraan.
Persaudaraan adalah salah satu sisi kebahagiaan yang membuat sempurna kebahagiaan seseorang. Kasih sayang dalam persaudaraan “ Keluarga Besar “ menyempurnakan rasa kasih sayang dalam “ Keluarga Kecil “
Kehangatan persaudaraan terasa semakin dibutuhkan dalam suasana kehidupan yang bernuansa materi dan hubungan yang kaku dalam kehidupan yang sarat dengan kepentingan - kepentingan.

Melestarikan dan mengembangkan tali persaudaraan dalam keluarga besar Trah Tirtodangso adalah untuk memenuhi kebutuhan rasa hangat dan kasih sayang dalam persaudaraan yang tulus tanpa disertai kepentingan - kepentingan. Karena justru kepentingan - kepentingan itulah yang seringkali kurang mengenakkan hubungan kekeluargaan.


TUJUAN PENYUSUNAN SILSILAH TRAH TIRTODONGSO Adalah :
2.1. Mengumpulkan sanak Saudara dari Keluarga Tirtodongso (Ngumpulake Balung Pisah ).

2.2. Membina Persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat dalam arti yang seluas - luasnya

2.3. Menghayati dan mengamalkan prinsip Tirtodongso “TANSAH TUMINDAK UTOMO” (selalu bertindak utama).



3. DASAR - DASAR PEGANGAN PENYUSUNAN SILSILAH

Silsilah ini disusun dengan berpegang pada :
3.1. Diagram Pohon “Silsilah Tirtodongso” yang dihimpun sejak tahun 1959-1997 oleh Bapak Husein Slamet Hardjosoediro.

3.2. Tulisan “Silsilah Tirtodongso” oleh Bapak Soedarwono Hardjosoediro.Prof.Ir - tahun 1980

3.3. Tulisan “Kisah Silsilah Keluarga R.NG.Hardjosoediro” oleh Bapak Soekarmanto Hardjosoediro - Th. 1992

3.4. Keterangan dari Para Sesepuh.

3.5. Keterangan dan Sumbang Saran Sanak Saudara, khususnya tentang tulisan Sdr.Guntur Sarosa tentang “Silsilah Keluarga Besar Tirtodongso” - Maret 1998.




4. PRINSIP GARIS KETURUNAN

Penyusunan Silsilah Trah Tirtodongso berdasarkan prinsip prinsip :

4.1. Sistim Parental Jawa mempergunakan garis keturunan “Parental” yaitu dari turun laki-laki dan perempuan.

4.2. Laki-laki dan perempuan mempunyai derajat yang sama, kedudukan dan tanggung jawab yang sama.

4.3. Membina persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat dalam arti yang seluas - luasnya.

Berdasarkan prinsip - prinsip tersebut diatas maka penyusunan Silsilah Trah Keluarga Tirtodongso disusun berdasarkan garis keturunan “ Parental : yaitu dari turun laki-laki dan perempuan.



5. NOMOR INDUK TRAH

Untuk mempermudah penulisan dan pembacaan sanak keluarga maka diberi Nomor Induk Trah Tirtodongso dengan ketentuan :

5.1. Kolom Pertama menunjukkan cikal bakal
Kolom Kedua menunjukkan turun kesatu
Kolom Ketiga menunjukkan turun kedua dst.

5.2. Angka pada masing-masing kolom menunjukkan anak kesatu,anak kedua dst.
Contoh ;
 1.2.3.4. = 1. Menunjukkan cikal bakal
2. Menunjukkan turun pertama anak kedua
3. Menunjukkan turun kedua anak ketiga
4. Menunjukkan turun ke tiga anak keempat, dst.
Nomor Induk Trah Tirtodongso tersebut menunjukkan nama : Ibu TJOKROROTO





1.2.5.4.2.4. = Ibu WINARNI
Untuk mengetahui jumlah anak dari Ibu Winarni lihat Nomor Induk 1.2.5.4.2.4. yang berdiri sendiri (tercetak dengan huruf besar dan tebal ) maka dapat diketahui bahwa Ibu Winarni berputra 8 (delapan) orang Nama Suami : R.SOEJITNO, BA

5.3. Setiap orang tertulis dua kali yaitu sebagai anak dan sebagai Kepala Keluarga, jika ingin mengetahui jumlah anak dari seseorang maka dapat dilihat Nomor Induk yang bersangkutan pada Nomor Induk yang berdiri sendiri sebagai Kepala Keluarga (tercetak dengan huruf besar dan tebal dan untuk mempercepat dapat dilihat pada kolom : Turun lihat halaman ).

Penomoran ini dibuat dengan tidak membedakan keturunan dari Ibu Pertama atau Ibu kedua dari Tirtodongso I, namun demikian “Perbedaan” tersebut tetap disajikan dalam lampiran yang disusun versi Guntur Sarosa ( 1.2.5.4.4.1.1. ).



6. MAKNA LAMBANG TRAH TIRTODONGSO

SIMBUL “ KRESNO “
Melambangkan Ketulusan dan Kebijaksanaan

SIMBUL “ SAYAP “
Melambangkan harapan untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas dan kwantitas Trah turun Tirtodongso menjadi pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan nikmat serta bermanfaat bagi Negara dan Bangsa.

SIMBUL “ LAR “ ( SAYAP )
Berjumlah lima karena Trah Tirtodongso berasal dari 5 orang putra putri Eyang Tirtodongso.

BINGKAI GAMBAR KRESNO
Berupa rangkaian bunga melati, melambangkan harapan bagi keharuman daripada Trah Turun Tirtodongso.


EYANG TIRTODONGSO

Yang diceritakan kembali oleh Bapak SOEKARMANTO HARDJOSOEDIRO dari buku cerita rakyat.

Dituturkan oleh para sesepuh, Eyang Tirtodongso itu adalah seorang Empu yang bekerja pada Kerajaan Kartosuro pada sekitar tahun 1700. Empu itu adalah seorang yang ahli dibidang tertentu, disini keahliannya adalah dalam membuat keris, senjata atau alat perang lainnya. Beliau adalah keturunan dari Empu Supo, salah seorang Empu terkenal yang mengabdi pada Kerajaan Prabu Brawijaya V di Majapahit. Empu Supo yang masa kecilnya bernama Joko Supo, disebutkan adalah putra Tumenggung Supardya, Wedana dalem kerajaan Majapahit, yang juga adalah seorang Empu dikala itu.
Empu Supo adalah murid Ki Sunan Kalijogo dan juga Ipar dari Beliau karena Empu Supo memperistri adik Beliau yang bernama Dewi Rasawulan.
Empu Supo dikenal dikalangan masyarakat Jawa sebagai pembuat / pencipta keris pusaka dari Kiyai Sunan Kalijogo yang diberi nama Kiyai Carubuk, Keris pusaka milik Empu sendiri Kiyai Sengkelat, Keris Nogososro. Dan keris - keris ampuh lainnya yang masih dikenal sampai dewasa ini dalam masyarakat Jawa.
Ki Tirtodongso dikenal luas dan dihormati dimasyarakatnya,sehingga dikisahkan sewaktu beliau wafat, oleh masyarakat tidak diinginkan dibawa / diangkut dengan kereta jenasah, karena masyarakatnya mengharapkan memikul bersama secara estafet jenasah beliau dari tempat tinggal beliau sampai kepemakaman Kemit Klaten.
Ibu SUTOMO SASTROWILOBO sebagai kerabat warga keturunan Tirtodongso masih ingat akan pesan Eyang Tirtodongso yang isinya anak cucu keturunan Beliau agar selalu berbuat “Tansah Tumindak Utomo“ yaitu selalu berbuat utomo, jujur, sabar, bijaksana cinta kebenaran dan berbuat adil. Dalam bidang pekerjaan atau profesi “ Tansah Tumindak Utomo” itu berarti selalu melakukan pekerjaan / profesi dengan sebaik - baiknya, penuh tanggung jawab, berdedikasi dan jujur serta iklas.

Read more...

Directory of Gaming Blogs Resources Blogs - Blog Top Sites